warning: Creating default object from empty value in /home/akarpxgi/public_html/web/doktermaya/modules/taxonomy/taxonomy.pages.inc on line 33.

Psikologi

Artikel Psikologi

Memukul Membuat Anak Merasa Jelek

Submitted by fery on Fri, 12/30/2011 - 09:33

Memukul atau menampar anak sebagai hukuman, ditambah perkataan "supaya anak jera", bukan tindakan tepat, apalagi dibenarkan. Memukul hanya membuat anak tidak jera. Yang paling dikhawatirkan, kebiasaan orangtua memukul malah akan membuat anak menjadi trauma. Harga diri mereka pun bisa jatuh. Bukan tidak mungkin, anak malah merasa dirinya jelek atau jahat.

Keinginan tangan untuk memukul pantat anak maupun menampar harus segera diikat, kalau perlu diborgol sekalian. Memukul, yang disebut orangtua sebagai hukuman (dalam bentuk fisik), akan memberi banyak pengaruh bagi anak. Bukan pengaruh positif, melainkan negatif.

Sebut saja Ari. Perempuan berusia 36 tahun itu suka memukul anaknya yang masih balita. Dia menyebutnya sebagai hukuman karena anaknya sering rewel tanpa alasan. Anaknya yang lain, sudah duduk di bangku sekolah dasar, juga tak luput dari pukulan. Alasannya, anaknya tak mau mengerjakan PR.

Tidak bermakna

5 Cara Sederhana Atasi Rasa Cemas

Submitted by fery on Fri, 12/09/2011 - 09:56

Rasa cemas sebenarnya identik dengan gelisah dan tak mampu mengontrol pikiran-pikiran negatif yang terus-menerus muncul di kepala. Tak hanya pikiran, rasa cemas juga bisa terlihat secara fisik seperti jantung berdebar-debar dan telapak tangan berkeringat.
Hampir seperempat dari orang dewasa di atas usia 65 tahun pernah mengalami kecemasan, tetapi kondisi itu sering kali tidak diobati. Alasannya, karena orang cenderung tidak mengenali gejalanya atau terlalu malu untuk mengungkapkannya.

Gejala gangguan kecemasan meliputi rasa khawatir dan ketakutan berlebihan. Sering kali, perasaan itu disertai ketegangan otot, sakit kepala, nyeri dada, dan kelelahan. Berikut ini beberapa strategi agar merasa lebih tenang saat terserang kecemasan.

1. Nafas panjang

Seks di Usia Dini Memicu Depresi

Submitted by fery on Wed, 12/07/2011 - 10:39

Penelitian mengindikasikan, melakukan hubungan seks di usia dini berpotensi menimbulkan dampak negatif pada tubuh dan suasana hati (mood) di kemudian hari. Menurut analisa para ahli, hal ini mungkin disebabkan karena di usia belia, sistem saraf pada tubuh masih dalam tahap perkembangan.

Meskipun riset ini didasarkan pada uji coba menggunakan hewan pengerat di laboratorium, tetapi para peneliti yakin bahwa temuan ini penting dan mungkin dapat diaplikasikan dalam memahami perkembangan seksualitas manusia.

Dalam penelitiannya, para ahli melakukan pengujian terhadap sepasang hamster dewasa. Usia hamster betina dan jantan ini setara dengan usia seorang manusia ketika saat remaja.

Hasil penelitian menunjukkan, hamster jantan yang melakukan hubungan seks pada usia muda cenderung menunjukkan perilaku atau tanda-tanda seperti depresi, penurunan berat badan, jaringan reproduksi yang lebih kecil dan perubahan sel di otak ketimbang hamster yang tidak melakukan hubungan seks sama sekali.

Emosi Orangtua bisa Pengruhi Karakter Anak

Submitted by fery on Mon, 12/05/2011 - 10:14

Bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak yang biasanya dilakukan orang tua yang masih muda usia sebaiknya jangan dilakukan. Sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang.Begitulah kesimpulan hasil sebuah survei tentang orang tua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap 991 orang tua.

Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan.

Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak. Tetapi biasanya semakin muda usia orang tua, semakin sering pula mereka melakukan ‘tindakan disiplin’ tersebut.

Membangun Kepercayaan Diri Anak

Submitted by fery on Thu, 12/01/2011 - 09:42

Memiliki anak yang memiliki kepercayaan diri alias ‘PD’ tentunya menyenangkan. Karena dengan kepercayaan diri yang mereka miliki ini dapat menciptakan prestasi dalam kehidupan mereka nantinya, dan juga keberhasilan dalam bersosialisasi tentunya.

Berikut beberapa tips untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri anak:

Menciptakan lingkungan rumah yang nyaman dan aman bagi anak merupakan awal dari segalanya. Berikanlah rutinitas yang dirasa cukup nyaman bagi mereka.
Perkenalkan mereka dengan lingkungan sekitar, secara bertahap dan berkala kenalkan mereka dengan kehidupan bersosialisasi. Misalnya pada saat kita sedang bermain dengannya, ada anak kecil yang berada disana, dorong mereka untuk berkenalan dan bermain bersama. Hal ini untuk mengembangkan kemampuan sosialnya dan agar dia tidak merasa malu pada saat berada di tempat umum.

Cara Atasi Sifat Pemalu Anak

Submitted by fery on Tue, 11/29/2011 - 09:18

Jika anak Anda benar-benar pemalu, jangan sekali-kali melabelnya, karena akan membuat rasa malu anak semakin menjadi. Ingat, anak akan berperilaku sesuai dengan apa yang dilabelkan. Anda bisa turut andil meminimalkan sifat pemalu pada anak.

Sebelumnya, yang perlu orangtua lakukan adalah mencari tahu, apa penyebabnya serta dalam situasi dan kondisi seperti apa anak menjadi pemalu. Apakah hanya ketika di luar rumah, di saat situasi tertentu saja, dan sebagainya. Dengan begitu, orangtua memiliki data akurat sebelum menangangi penyebabnya.

1. Kontak mata
Ketika berbicara dengan anak, minta ia selalu untuk menatap mata Anda. Dengan memaksa dan menerapkannya setiap waktu, lambat laun anak akan terbiasa melakukan kontak mata dengan lawan bicara.

Memahami Psikologi Kesehatan : Tinjauan umum dan religi

Submitted by fery on Tue, 11/15/2011 - 09:27

Harapannya semua orang berada dalam kondisi sehat. Sehat (Arab "Al-shihah"), dalam Islam bukan hanya merupakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah fisik (jasmani), melainkan juga secara psikis (jiwa). Karena itulah Islam memperkenalkan konseps al-Shihhah wa al-afiyat (lazim diucapkan sehat wal'afiat). Maksud dari konsep itu yakni suatu kondisi sehat di mana seseorang mengalami kesehatan yang paripurna, jasmani, dan rohani atau fisik dan psikis.

Jika ada individu yang sehat, tentu ada pula individu yang sakit. Di hadapan Allah, orang sakit bukanlah orang yang hina. Mereka justru memiliki kedudukan yang sangat mulia.

"Tidaklah seorang muslim tertimpa derita dari penyakit atau perkara lain kecuali Allah hapuskan dengannya (dari sakit tersebut) kejelekan-kejelekannya (dosa-dosanya) sebagaimana pohon menggugurkan daunnya."
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Kenali Temper Tantrum pada Anak

Submitted by kennia on Mon, 11/03/2008 - 22:42

Andi menangis, menjerit-jerit dan berguling-guling di lantai karena menuntut ibunya untuk membelikan mainan mobil-mobilan di sebuah hypermarket di Jakarta? Ibunya sudah berusaha membujuk Andi dan mengatakan bahwa sudah banyak mobil-mobilan di rumahnya. Namun Andi malah semakin menjadi-jadi. Ibunya menjadi serba salah, malu dan tidak berdaya menghadapi anaknya. Di satu sisi, ibunya tidak ingin membelikan mainan tersebut karena masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Syndicate content
© 2008 Akar Prima Nusantara Drupal theme by Kiwi Themes.